Tampilkan postingan dengan label Burung Hantu (OWL). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Burung Hantu (OWL). Tampilkan semua postingan
on Minggu, 09 Maret 2014
I.Trapping (menjebak)
Di indo sih jarang kalo ada orang yang nangkep BoP untuk dipelihara biasanya untuk dijual.
trap yang saya tahu dan ga begitu susah dibuat
Ia.Noose
http://www.youtube.com/watch?v=HNAn8M0Q1G4
masalah trap ga begitu punya pengalaman saya kalo ada tolong share yaaa..

 

II.Buying (membeli)
  untuk BoP yang pertama kali diliat adalah:
 
a.bulu 
bulunya pastikan lengkap kalo kalian belinya yang udah juve (remaja)/brancher(peralihan
chick ke juve)/mature (udah gede) kalo masih bulu kapas (chick) ya ga usah diperiksa
bulunya



b.sifat
taruh tangan kalian didepan matanya kalo bopnya aktif alias ngikuti gerakan tangan ya sehat,tapi kalo diem aja ga noleh2 berarti ya agak ga beres lah burungnya  

c.fisik
kalo bulu lepek alias nge-drop kebawah ga dilipet kesannya males2an berarti stress

III.Kata yang sering digunakan alias bahasa falconry

FoF: Feed on fist: Memberi makan BoP di atas tangan. Posisi BoP bertengger pada sarung tangan dan makanan dipegang di sarung tangan.
JTTF: Jump to the fist: Memberi makan BoP dengan cara memancing BoP untuk loncat ke tangan. Sama seperti FTTF hanya jaraknya lebih pendek, tidak cukup untuk BoP terbang, hanya cukup untuk bop meloncat.
FTTF: Fly to the fist: Memberi makan BoP dengan cara memancing BoP untuk terbang ke tangan.
FF: Free fly: Keadaan BoP yang sudah tidak dipasang leash / creance lagi sewaktu pelatihan. Pada tahap ini BoP tidak akan kabur / escape dan sudah terbentuk ikatan antara falconer dengan BoP nya.


IV. Sampe dirumah

Ini tahap paling susah dan paling menentukan gan, karena hari2 pertama BOP di rumah akan memberikan kesan terhadap lingkungannya. Bila ada perlakuan dari lingkungan yang membuat BOP agan agak terganggu, akan menciptakan phobia terhadap hal tersebut. Phobia ini akan menghambat proses training BOP agan. Cara klasik yang saya lakukan adalah mengurung BOP di tempat yang gelap. Untuk barn, cukup di kardus bekas TV. Untuk celepuk, cukup di kardus aqua bekas. Pengurungan ini saya lakukan selama 3 hari. Walaupun BOP sudah mulai berisik, proses ini tetap saya lanjutkan sampai 3 hari. Selama pengurungan, saya memberi makan BOP dengan pakan hidup yang saya belek bagian dadanya. Saya menggunakan tikus putih ukuran sedang untuk BOP seukuran barn owl keatas dan
Tikus putih yang masih bayi untuk ukuran celepuk. Makanan ini selalu saya check keberadaanya tiap 4 jam 1x. Bila saya mau tidur saya berikan pakan serupa sebanyak 3 buah. Setelah proses karantina 3 hari, saya pindahkan BOP ke tempat yang lebih terbuka dan banyak orang lalu lalang. Proses pemindahan ini saya lakukan malam hari. Setelah BOP pindah tempat, biarkan BOP menyesuaikan diri terlebih dahulu. Sampai dia sudah mulai berisik baru berikan pakan yang kita biasa berikan di ruang karantina namun pakan tersebut di letakkan di atas glove. Biasakan BOP agan makan di atas glove agan. Proses ini di sebut FOF. Setelah 2-3 hari, pakannya boleh di ganti dengan pakan yang agan kehendaki (tidbits daging sapi, atau burung emprit dalam keadaan hidup, atau tikus putih dalam keadaan hidup). Proses ini terus berjalan sampai BOP agan dapat mengenali glove, panggilan, dan makannya. Setelah itu baru agan dapat melatih BOP agan dengan cara JTTF. Mantapkan materi falconry satu per satu. Setelah JTTF dilanjutkan ke FTTF lalu ke FF lalu ke hunting. Untuk sampai ke FF akan memakan waktu yang cukup panjang. BOP yang dapat masuk ke FF hanya BOP yang dapat FTTF jarak 20m dengan posisi BOP lebih tinggi di banding kepala agan (2-3 meter). Untuk tahap ini bisa menggunakan crenance (saya lupa tulisannya gimana) yang terbuat dari tali perusik dengan minimal panjang 30m. Crenance di gunakan untuk mencegah escaping...
on Selasa, 25 Februari 2014
Bagi kolektor burung eksotik, burung hantu bisa dijadikan salah satu pilihan. Meski demikian, siapapun tetap bisa memelihara burung ini, khususnya untuk dijadikan partner atau sahabat di rumah. Yang penting, Anda harus rajin melatihnya, dan memiliki beberapa pemahaman awal mengenai apa dan bagaimana burung hantu.

Jika kelak sudah menguasai teknik pemeliharaan / perawatan dan cara melatih burung hantu, bukan tidak mungkin Anda bisa berubah fikiran untuk menjadi penangkar, atau bahkan pencetak burung hantu-burung hantu terlatih yang memiliki nilai jual tinggi.
Saat ini burung hantu terpopular, yaitu jenis barn owl (Tyto alba), dijual seharga Rp 3,5 juta – Rp 7,5 juta per pasang, jantan dan betina, umur 8 bulan. Untuk anakan umur 2 bulan, harga bervariasi mulai dari Rp 250.000 – Rp 400.000 per ekor. Kalau dewasa, dan sudah terlatih, harga bisa di atas Rp 10 juta per ekor.
burung hantu
Satu hal yang wajib diperhatikan, burung hantu rentan stres, bahkan sering berujung pada kematian jika kita lalai dalam perawatannya. Karena itu, burung hantu jenis apapun harus dirawat secara tepat dan optimal agar burung bisa hidup lebih lama, dan memberi banyak manfaat bagi Anda dan keluarga.
Selain itu, jangan pernah memperlakukan burung hantu sebagaimana burung kicauan, yang saban hari selalu di dalam sangkar. Hal inilah salah satu penyebab mengapa burung hantu mudah stres dan cepat mati.
Berikut ini delapan tips sukses dalam merawat burung hantu :
1. Anggaplah burung hantu sebagai partner
Jika Anda baru memelihara burung hantu di rumah, perlakukan mereka seperti layaknya partner, dan bukan sekadar sebagai burung piaraan sebagaimana kita memelihara burung kicauan. Pada burung kicauan, mungkin kita cukup mengenali karakter burung, kemudian memberi pakan danextra fooding (EF),  mandi-jemur, lantas menggantung sangkarnya di gantangan, dan seterusnya.
Burung hantu tidak bisa diperlakukan seperti itu, karena dia memiliki kepintaran yang setara dengan burung paruh bengkok (parrot). Burung hantu bahkan butuh disapa sang pemilik atau perawatnya, agar cepat menjadi jinak dan membuatnya makin percaya kepada perawat / pemilik.
Jika sudah muncul kepercayaan seperti itu, burung akan merasa aman dan nyaman ketika kita mendekatinya. Karena itulah, mereka tidak akan mau melepaskan diri atau kabur begitu ditaruh dalam tenggeran tanpa tali pengikat.
2. Jangan memasukkan dalam sangkar
Sebaiknya jangan pernah memasukkan burung hantu dalam sangkar. Meski terkesan kurang aktif, burung ini cenderung stres dan makin sulit dijinakkan jika dipelihara dalam sangkar.
Lebih baik menyediakan tenggeran yang biasa digunakan untuk kakatua, dengan mengikat tali pada kakinya dan tenggeran. Kalau pun tidak ingin memeliharanya dalam tenggeran seperti itu, Anda bisa menggunakan kandang berukuran besar, misalnya kandang aviary.
Menggunakan tenggeran bukan sangkar adalah hal yang bisa mempercepat proses penjinakan
Dianjurkan memelihara burung hantu di atas tenggeran, bukan sangkar.
—-
Menggunakan tenggeran atau perching sebagai tempat nangkring sehari-hari sangat memudahkan kita dalam proses penjinakan burung. Jika burung sudah jinak, dia lebih mudah dilatih dan tidak mudah stres.
3. Berikan pakan secukupnya.
Burung hantu makan tikus
Tikus putih menjadi pakan kesukaan burung hantu.
Perawatan burung hantu sejenis celepuk (burung hantu kecil) memang lebih mudah daripada jenis lain seperti barn owl. Jangkrik bisa diberikan pada pagi dan malam hari, dengan porsi secukupnya.
Pemberiannya bisa dilakukan dengan meletakkan jangkrik dalam wadah / cepuk pakan, lalu ditaruh di tempat yang mudah dijangkau burung hantu. Pakan juga bisa diberikan dengan cara menyodorkan jangkrik langsung ke mulut / paruh burung.
Begitu pula dengan air minumnya, dapat diberikan langsung ke paruh burung, atau dimasukkan dalam wadah dan diletakkan di lokasi yang mudah dijangkau burung.
Untuk pakan tambahan, Anda bisa memberinya ikan-ikan kecil, tikus kecil, atau burung emprit banyak dijual di pasar burung dengan harga sangat murah.
Diusahakan tidak memberinya potongan daging ayam mentah, lele, maupun daging olahan seperti sosis, bakso dan sejenisnya. Sebab daging ayam dan lele umumnya hasil budidaya yang dipacu dengan zat pertumbuhan. Begitu pula daging olahan, yang biasanya menggunakan bahan kimia, termasuk bahan pengawet.
Dengan kata lain, berikan pakan yang termasuk salah satu rantai makanan dari burung hantu, yaitu binatang yang masih hidup.
4. Jangan menjemur burung hantu di tempat panas
Perawatan burung hantu
Burung hantu bisa dikeluarkan pagi hari, tapi jangan dijemur.
—-
Burung hantu merupakan contoh burung noktural yang paling sempurna. Ketika hari terang, dia justru berada di tempat persembunyiannya. Begitu petang, dia keluar dari persembunyiannya untuk mencari mangsa. Kalau sudah kenyang, barulah dia balik lagi ke persembunyiannya.
Namun, dalam pemeliharaan manusia, burung hantu masih bisa aktif pada saat hari terang. Jadi, boleh saja dia dikeluarkan dari ruangan, misalnya ditaruh di teras pada pagi hari. Yang mesti diperhatikan, jangan sampai ia terkena panas secara berlebihan. Jadi, jangan pernah menjemur burung hantu di tempat panas.
Jika sinar matahari mulai meninggi, yang berarti makin panas, segera masukkan burung hantu ke tempa yang teduh. Selain itu, jangan pula memandikan burung di bawah sinar matahari, karena bakal membuatnya makin stres, karena menyalahi kodratnya sebagai burung noktural, yaitu burung yang aktivitasnya dilakukan malam hari.
5. Sering berbicara kepada burung hantu
Sepertinya anjuran aneh, wong burung kok diajak bicara. Kalau burung paruh bengkok yang terlatih mungkin masih bisa membalas dengan kalimat pendek atau beberapa rangkaian kata. Nah, burung hantu kan tidak bisa bicara. Salah-salah, orang lain yang melihat akan mengira kitanggak waras, karena bicara sendiri, he.. he.. he…
Tetapi  itulah salah satu cara untuk mempercepat proses penjinakan dan membangun ikatan batin antara sang pemilik / perawat dan burung hantu. Usahakan setiap bertemu menyapanya, seperti “helo…”, “apa kabar…”, dan  sebagainya.
Kebiasaan menyapa ini akan membuat burung hantu  nyaman dan merasa diperhatikan. Saat memberi pakan,  Anda juga bisa mengajaknya bicara.
Selain akan mempercepat proses penjinakan, sapaan seperti ini bisa mencegah burung dari potensi stres. Jika burung hantu sampai stres, dia seringkali mogok makan, sehingga akhinya jatuh sakit dan mati.
6. Berikan sentuhan lembut
Sering-seringlah mengusap atau mengelus mereka agar cepat akrab.
Sentuhan lembut bisa membuat burung hantu cepat jinak. (foto: kaskus)
—-
Rupanya yang butuh sentuhan bukan cuma manusia saja. Burung hantu pun demen disentuh atau dielus-elus sang pemilik atau perawatnya. Saat Anda menyentuhnya, terutama pada bagian atas kepalanya, silakan lihat ekspresi wajahnya. Pasti burung akan merasa nyaman.
Kombinasi antara sering menyapa, mengajaknya bicara, serta memberikan sentuhan lembut pada kepalanya, akan memberi efek luar biasa sehingga burung cepat jinak, mudah dilatih, dan dapat diperintah sesuai dengan  apa yang Anda inginkan.
7. Matikan lampu pada tengah malam
Nah, yang ini juga perlu diperhatikan. Jangan mentang-mentang burung noktural alias burung malam, lantas burung hantu dibiarkan dalam ruangan dengan lampu yang menyala terang. Di tengah malam, biasanya usai makan malam, sebaiknya lampu ruangan dimatikan sehingga menjadi gelap gulita.
Barangkali justru kita selaku pemilik / perawat yang akan kesulitan melihat kondisi ruangan yang gelap, tetapi burung hantu memiliki kemampuan yang tidak dimiliki manusia. Jadi, it’s ok, biarkan saja burung semalaman berada di tempat gelap tanpa cahaya. Justru cahaya yang terang akan mengganggu burung, atau membuatnya kerap dilanda kecemasan.
8. Tenang dan jangan panik
Setiap kali berada di depan burung hantu, usahakan untuk selalu bersikap tenang dan tidak panik. Bagaimana kalau kita digigit dan dicakar, dalam proses awal penjinakan? Ya itu tadi, tetap tenang dan jangan panik. Kalau Anda menunjukkan kepanikan, burung hantu biasanya ikut panik dan stres, tidak mau makan, dengan akibat yang bisa Anda tebak sendiri.
Tetapi, Anda pun jangan sampai cedera hanya karena ingin menjinakkan burung hantu. Solusinya, jika masih dalam tahap awal penjinakan, disarankan menggunakan sarung tangan dari kulit, agar tangan Anda selamat dari kemungkinan cedera akibat digigit atau dicakar burung hantu.
Burung hantu Darcy
Sarung tangan kulit untuk melindungi Anda dari risiko cedera.
—-
Itulah delapan tips sukses dalam merawat burung hantu, baik jenis celepuk, barn owl, dan sebagainya. Yang terpenting pada tahap awal memelihara adalah proses penjinakan, agar burung memiliki kepercayaan kepada kita selaku pemilik / perawat.
Jika burung hantu sudah jinak , maka proses pelatihan bisa diberikan agar burung hantu memiliki kemampuan istimewa.
Semoga bermanfaat :D
Sesuatu yang berbau horor di negeri ini nampaknya justru sering mendatangkan rupiah. Tayangan berbau mistis seperti Uji Nyali atau [Masih] Dunia Lain memiliki banyak penggemar. Beberapa film horor juga mampu menghadirkan banyak penonton ke gedung bioskop. Di Jakarta, wahana rumah hantu sedang booming. Kini, yang dekat dengan dunia burung, penangkaran burung hantu pun bisa menghasilkan keuntungan jutaan rupiah per bulan. Tidak percaya?
Adalah Anto Srianto, lelaki asal Surabaya, yang menggeluti penangkaran burung hantu. Pemilik Tekno Tani ini menjalin kerja sama dengan Paguyuban Pusat Pelayanan Agen Hayati (BPAH) Mojopahit, Mojokerto, Jawa Timur. Ia melatih burung ini untuk memburu tikus-tikus yang menjadi musuh petani.
“Saya hanya menjual burung hantu dewasa, usia delapan bulan,” kata Anto. Jenis burung hantu yang dibudidayakannya adalah barn owl (Tyto alba), dengan harga jual Rp 3,5 juta untuk pembeli di Jawa dan Rp 7,5 juta untuk luar Jawa (sudah termasuk ongkir).
Setiap pembeli akan mendapat sepasang burung hantu (jantan dan betina). Mereka juga mendapat pelatihan singkat mengenai cara perawatan atau pemeliharaan burung hantu.
Entah mengapa burung ini dinamakan burung hantu. Bisa jadi karena hanya muncul di malam hari. Atau, karena mitos bahwa jika kita mendengar suara burung hantu, maka itu merupakan pertanda datangnya hantu. Suara burung hantu, bagi sebagian orang, memang bisa membuat bulu kuduk merinding.
Klasifikasi Ilmiah Burung Hantu (Tyto Alba)
Burung hantu memiliki beberapa spesies, yang berasal dari dua famili yaitu Tytonidae dan Strigidae, dengan beberapa genus. Adapun genus yang banyak dijumpai di Indonesia adalah Tyto, Otus, dan Ninox. Genus Tyto memiliki spesies bernama barn owl (Tyto alba), seperti yang dibudidayakan Anto Sriyanto.
Lain Anto, lain pula Agus Suwarto. Pemilik Roemah Satwa ini membudidayakan Tyto alba bukan untuk membasmi tikus dan ular, tapi sebagai burung hias. Meski kesan menyeramkan masih terlihat, burung ini sebenarnya unik dan eksotik. Terbukti banyak kolektor yang berminat.
Jeli Melihat Peluang 
Burung hantu kini menjadi andalan untuk pemberantasan binatang-binatang pengganggu  sawah, terutama tikus dan ular. Tidak mengherankan jika Dinas Pertanian dan Perkebunan di sejumlah pemerintah kabupaten dan provinsi terus memasyarakatkan penggunaan burung hantu sebagai predator alami. Misalnya Pemkab Sleman, Demak, dan Jombang, serta Pemprov Jateng dan Jatim.
Anto dengan jeli menangkap peluang itu. “Satu pasang burung hantu Tyto alba beserta anak-anaknya bisa memakan 10 ekor tikus per hari. Sebenarnya burung ini mempunyai insting untuk membunuh hingga 30 ekor tikus per hari,” kata Anto.
Omzet penjualannya bisa mencapai Rp 20 juta hingga Rp 50 juta per bulan. Pembelinya pun datang dari berbagai daerah di Indonesia. “Saya baru saja mengirim burung hantu ke Kendal, Gorontalo, Lampung dan Kalimantan. Kalimantan beli  tujuh pasang untuk pengendalian tikus di perkebunan kelapa sawit,” tutur Anto.
Kalau Anto hanya menjual burung hantu dewasa (umur 8 bulan), Agus justru menjualnya pada usia sangat muda: 2 bulan. Harganya pun jauh lebih murah, rata-rata Rp 250.000 / ekor. Omzet penjualannya mencapai Rp 3 juta / bulan.
Budidaya burung hantu dapat dilakukan dengan membeli sepasang induk di pasaran. Burung ini dikenal setia terhadap pasangannya. Induk betina hanya mengalami dua kali periode peneluran dalam setahun. Setiap periode peneluran bisa menghasilkan 6-12 butir telur, dengan daya tetas mencapai 90%. Artinya, dari 10 telur yang dierami, sembilan diantaranya akan menetas.
Untuk memudahkan perawatan, kata Anto Srianto, anak burung  yang baru menetas jangan dipisahkan dulu dari indukannya. Biarkan indukan yang membesarkan. Untuk itu, perlu dibuatkan kandang agak besar, dengan panjang 90 cm, lebar 60 cm, dan tinggi 40 cm. Adapun pintu  memiliki panjang 13 cm dan lebar 13 cm,” jelasnya.
Induk dan Anakan Burung Hantu (Tyto Alba)
Satu kandang hanya diisi sepasang induk dewasa. Sebab burung hantu tidak mau berbagi kandang dengan pasangan lain. Mereka pasti akan bertengkar. Anak yang menetas dipelihara dalam kandang yang sama. Ketika usianya sudah mencapai empat bulan, anakan bisa dilatih mencari makan sendiri.
“Sebelum berusia empat bulan, kebutuhan pakan buat anak burung ini dipenuhi oleh indukannya sendiri. Induk mencari makan untuk anaknya dengan  berburu tikus di sawah. Karena itu, sebaiknya lokasi tempat budidaya dekat dengan sawah atau kebun,” kata Anto.
Jangkauan berburu burung ini bisa mencapai 12 kilometer (km) dari sangkarnya. Ia akan kembali ke kandang dengan membawa hasil tangkapan ke sangkar. Jadi sejak kecil, anak burung hantu sudah makan daging-dagingan.
Sebagai patokan, sepasang induk dan anak-anaknya rata-rata menghabiskan 10 ekor tikus per hari.  Apabila jumlah tikus hasil berburu alami kurang, Anto akan memberikan tikus putih sebagai pakan tambahan.
Burung hantu akan berburu selepas maghrib dan tertidur setelah makan. Menurut Anto, kandang harus dibuat sangat rapat, sehingga burung yang tertidur di siang hari tidak terganggu sinar matahari. Sinar matahari tidak boleh masuk kandang, karena mereka tak akan kerasan tinggal di kandang. Itu sebabnya, burung ini hanya keluar di malam hari.
Agus Suwarto juga kerap menambahkan menu lain untuk burung hantu, yaitu usus ayam yang dicacah-cacah. Pakan diberikan dua kali dalam sehari. Dengan jumlah pakan yang cukup, burung hantu akan tumbuh dengan baik.
“Burung hantu rentan terkena virus yang juga menyerang ayam. Makanya, jika di sekitar kandang burung hantu ada ayam yang sakit, maka kemungkinan besar burung hantu juga akan terjangkiti penyakit sama,” ujar Agus.
Anda tertarik mengikuti jejak Anto dan Agus?
Kehebatan merpati, terutama merpati pos, dalam mengirim surat penting sudah tak diragukan lagi. Bahkan merpati pos pernah diberi medali oleh Pemerintah AS, karena jasanya selama Perang Dunia II. Kini, burung hantu juga bisa melakukan tugas serupa, melalui pelatihan di tempat perlindungan hewan Kirkleatham Owl Centre, North Yorkshire, Inggris. Kok seperti Hedwig, burung hantu rekaan dalam kisah Harry Potter ya…
Burung hantu pemeran Hedwig dalam film Harry Potter.
Burung hantu pemeran Hedwig dalam film Harry Potter.
Dalam serial Harry Potter karya JK Rowling, yang kemudian difilmkan, Hedwig adalah burung hantu betina yang dimanfaatkan penyihir sebagai kurir pengantar surat dan barang kiriman. Ide ini benar-benar fiksi, karena waktu itu memang tidak ada burung hantu yang bisa menjalankan tugas sebagai pengantar surat dan barang.
Ketika difilmkan, Hedwig diperankan oleh burung hantu jantan. Bagaimana burung ini mampu berakting sebagai kurir, tentu saja itu pintar-pintarnya sutradara serta teknologi animasi yang digunakan para kru pembuat film tersebut. Tapi yang pasti, burung hantu pemeran Hedwig sebenarnya tidak mampu membawa surat sampai ke tempat tujuan. Sebab, dalam kehidupan nyata, saat itu belum ada burung hantu yang mampu mengantar surat.
Namun kini semuanya berubah. Burung hantu benar-benar dapat menjalankan peran tersebut dengan baik. Para pelatih di Kirkleatham Owl Centre (KOC) tampaknya terinspirasi oleh kepintaran Hedwig. Mereka terus memberikan pelatihan kepada satwa noktural itu, agar dapat menyampaikan pesan majikannya.
Burung hantu memamerkan keahliannya membawa surat di ruang kerja Amy Smith dan rekannya di KOC.
Burung hantu memamerkan keahliannya membawa surat di ruang kerja Amy Smith.
Seperti diberitakan Mail Online, Minggu waktu setempat atau Senin (1/4) WIB), burung hantu mulai dimanfaatkan sebagai tukang pos sejak KOC melakukan pengurangan anggaran dan staf di pusat pelatihan tersebut. Akibatnya, banyak surat yang tidak terkirim dan menumpuk di atas meja.
Amy Smith, salah seorang pelatih burung hantu di KOC, kemudian mulai memikirkan bagaimana jika burung-burung tersebut dilatih agar mampu membawa atau mengantar surat. Ketika ide ini disampaikan kepada teman-teman sesama pelatih, tanggapannya dingin-dingin saja.
Gadis berusia 19 tahun itu tidak berputus asa, bahkan akhirnya bisa meyakinkan beberapa teman sejawatnya. “Burung hantu memiliki bakat bawaan untuk pekerjaan seperti mengantar surat. Sebab, bagi mereka, mengangkut surat tidak berbeda dari membawa mangsa hasil buruannya,” kata Amy.
Rencana Amy pun disepakati institusinya. Dari 45 ekor burung hantu yang ada di KOC, delapan ekor dipilih sebagai “siswa angkatan pertama”. Proyek pelatihan yang dinamakan Roy-owl Mail itu pun dimulai awal pekan lalu.
“Kami hanya perlu melatih mereka mengenai bagaimana cara mengambil surat dan di mana lokasi tujuannya. Burung-burung lalu dilatih mengenali enam warna primer pada nampan berbeda. Setiap warna mewakili surat berkode A, B, C, D, E, dan F,” jelas Amy.
Warna nampan merupakan petunjuk bagi burung hantu untuk mengambil surat yang ada. Jika sudah terambil, burung akan mengantarnya ke lokasi yang memiliki nampan berwarna sama. Burung hantu bisa mengantar surat dalam radius 3 km2.
Di belakang burung hantu ada enam nampan berkode A-F dengan warna berbeda.
Di belakang burung hantu ada enam nampan berkode A-F dengan warna berbeda.
Mencengkeram tali pengikat surat, untuk dibawa ke lokasi tujuan.
Mencengkeram tali pengikat surat, untuk dibawa ke lokasi tujuan.
Mejeng dulu sebelum menjalankan tugas.
Mejeng dulu sebelum menjalankan tugas.
Mungkin saat ini kemampuan burung hantu baru mencapai radius pendek. Tetapi, boleh jadi, kelak bisa mencapai radius yang lebih luas.
Andai “Harry Potter and Deathly Hallows bukan merupakan sekuel terakhir, atau Rowling mau meralat ucapannya sehingga mau membuat satu serial lagi, pasti salah satu dari delapan ekor burung hantu di KOC bakal dijadikan aktor pemeran Hedwig.
Semoga menginspirasi para pelatih burung hantu di pedesaan, juga para pemilik burung hantu untuk kelangenan di rumah.
Burung hantu tak lagi menjadi mitos yang menyeramkan, burung berbadan bongsor dan cenderung diam ini mulai banyak dipelihara oleh penggemarnya. Gaya yang tenang dengan tampang menggemaskan menjadi alasan beberapa orang untuk memelihara si owl ini.
Burung hantu termasuk cerdas dan bisa dilatih, selain itu bulunya yang lembut membuat penggemarnya suka mengelus si owl.
1. Burung hantu adalah salah satu hewan paling setia karena hanya 1 kali kawin.
2. Burung Hantu ditemukan di semua benua kecuali Antartika.
3. Burung hantu betina lebih berat dan lebih besar dibandingkan dengan jantan dari jenis mereka.
4. Kebanyakan dapat memutarkan kepalanya tiga per empat lingkaran tanpa harus menggerakkan badannya.
5. Matanya tidak bergerak ketika melihat meskipun memiliki penglihatan binokuler seperti manusia.
6. Tidak dapat berkedip dan melirik ketika melihat mangsa. melainkan menggerakkan lehernya (kepala).
7. Mempunyai 3 kelopak mata : 1 untuk mengejapkan bila ada gangguan, 1 untuk tidur dan 1 untuk membersihkan mata.
8. Wajah mereka pipih seperti cakram dan berbulu, hal itu berguna untuk mengumpulkan dan memfokuskan gelombang bunyi sehingga mangsa tidak dapat melarikan diri.
9. Beberapa burung hantu memiliki ukuran tinggi daun telinga yang berbeda.
10. Aktif dimalam hari (nokturnal), kecuali beberapa jenis burung hantu yang seputih salju seperti hedwig burung hantu milik harry potter yang akif di siang hari.
11. Bulunya dirancang khusus untuk meredam bunyi agar dapat memfokuskan mangsa.
12. Burung hantu adalah pemangsa dan sangat membantu manusia dalam membasmi hama pengerat seperti tikus.
13. Hanya burung hantu jantan yang berwarna putih sempurna seperti Hedwig. Walau karakter hedwig adalah betina, kenyataannya ia burung hantu jantan.
14. Di Yunani kuno burung hantu adalah perlambang kebijaksanaan.
Pada postingan berikut ini saya ingin memberitahu bagaimana cara melatih burung hantu agar lebih akrab dengan kita. Kalau memelihara burung hantu hanya sekadar ikut-ikutan, sehingga hanya ditaruh dalam kandang lalu diberi pakan setiap hari tanpa pernah berinteraksi dan dilatih, lebih baik dilepas ke alam liar. Sebab kita tidak akan mendapat manfaat apapun dari pemeliharaan burung hantu.
images (8)
Dalam perawatannya, burung hantu sebaiknya tidak dipelihara dalam sangkar burung yang kecil. Kalaupun dipelihara dalam sangkar, dibutuhkan sangkar yang cukup bagi burung hantu untuk membentangkan kedua sayapnya.
Tetapi lebih baik lagi jika burung hantu diletakkan dalam tenggeran khusus yang bisa dibuat sendiri. Tenggeran ini mirip dengan tenggeran kakatua atau nuri, meski bahan, bentuk, dan ukurannya yang berbeda.
Tenggeran burung hantu biasa disebut perch. Istilah ini sebenarnya berlaku untuk semua burung tipe petengger. Selain itu, ada beberapa istilah internasional yang biasa digunakan untuk burung hantu maupun burung pemangsa (birds of prey / BOP) lainnya, misalnya :
  • FOF : Feed on Fist (memberi makan di atas tangan)
  • JTTF : Jump to the Fist (melatih burung  lompat ke tangan)
  • FTFF : Fly to the fist (melatih burung terbang ke tangan).
  • FF : Free flight (melatih burung terbang bebas)
  • Batting (burung menjauh / terbang / loncat ketika didekati)
JENIS TENGGERAN / PEARCH YANG BISA DIGUNAKAN
Beberapa jenis tenggeran / perch untuk burung hantu.
Dalam pelatihan burung hantu juga dikenal dengan beberapa peralatan khusus yang digunakan, seperti terlihat dalam gambar di bawah ini :
PERLENGKAPAN YANG DIPERLUKAN DALAM MELATIH OWL
Perlengkapan yang diperlukan dalam melatih burung hantu.
  • Anklet: tali yang terbuat dari kulit untuk mengikat kaki burung hantu, semacam gelang untuk kakinya.
  • Swivel: Perangkat dari logam yang memiliki poros berputar, yang memungkinan tali yang diikat pada kakinya tidak terbelit.
  • Jess: Tali pendek dari kulit yang bisa dihubungkan dengan anklet.
  • Perch : Tempat tangkringan / tenggeran untuk burung hantu.
  • Leash : Tali kulit setelah Swivel yang digunakan untuk mengikat burung saat berada di tangkringan.
  • Lure : Perlengkapan berbentuk seperti burung atau kelinci yang digunakan untuk melatihnya berburu.
Oh ya, ada satu lagi peranti penting, yaitu glove, atau sarung tangan khusus untuk menangani burung hantu, agar tidak terluka karena kuku-kukunya sangat tajam.
Berdasarkan umurnya, burung hantu bisa dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu :
  • Chick : Anakan burung yang masih memiliki bulu seperti kapas.
  • Brancher : Burung hantu muda yang sudah berbulu lengkap, tetapi belum mampu terbang.
  • Juvenile : Burung hantu muda yang sudah mampu berburu sendiri.
  • Mature : Burung hantu yang sudah berusia tua, biasanya sudah agak susah untuk dilatih.
Beberapa metode pelatihan burung hantu
Melatih burung hantu berbeda dari melatih burung pemangsa lainnya seperti elang dan falcon, sebab pelatihan hanya bisa dilakukan pada pagi dan sore hari saja, tidak bisa dilakukan siang hari.
Sebelum melatih, pastikan burung hantunya sudah jinak agar tidak merepotkan di kemudian hari. Proses penjinakan bisa dilakukan dengan meletakjan burung hantu dan tenggerannya di tempat ramai, seperti di ruang keluarga, ruang
televisi, di kamar kita, atau bahkan di samping tempat tidur.
Ada beberapa tahapan dalam melatih burung hantu, dan biasanya cara yang digunakan sesuai dengan urutan pelatihan agar burung cepat menerima materi pelatihan. Berikut ini beberapa metode pelatihan yang bisa diberikan :
1. Metode FOF
Setelah burung dirasa dekat dengan kita ( tidak takut lagi ), proses berikutnya adalah melatih burung hantu nangkring (bertengger ) di tangan kita. Untuk itu, diperlukan sarung tangan khusus (glove) agar tangan Anda tidak sakit karena kukunya yang panjang.
Sambil melatihnya bertengger, Anda bisa meletakkan makanan di tangan dan biarkan burung hantu memakannya hingga puas. Tujuannya adalah membuat burung hantu merasa nyaman di tangan. Proses ini dikenal dengan sebutan FOF atau feed on fist.
Video burung yang dilatih makan di atas tangan manusia.

2. Metode JTTF
PELATIHAN JTFF
PELATIHAN JTFF
Setelah burung akrab dengan tangan manusia, kini saatnya membiasakan dia   untuk terbang / lompat ke tangan. Caranya, letakkan burung hantu dengan jarak yang bertahap. Misalnya setengah meter, kemudian menyuruhnya untuk melompat ke tangan. Begitu seterusnya.
Jika sudah mahir, jarak bisa diperpanjang menjadi 1 meter. Dalam tahapan ini, kita harus memberikan aba-aba atau perintah baik dengan peluit atau melalui kata-kata, agar burung mengerti bahwa perintah itu adalah untuk bertengger di tangan atau glove. Jangan lupa, setiap kali burung berhasil melompat ke tangan kita, berikan makanan sebagai hadiahnya.
Metode ini bisa dikembangkan lagi, misalnya dengan cara menaruh burung di bawah lalu menyuruhnya melompat ke tangan secara vertikal. Dalam hal ini, pemilik harus berada lebih tinggi dari burung tersebut. Metode ini berguna untuk melatih otot burung bagian atas burung hantu.
3. Metode FTTF
PELATIHAN FTTF
PELATIHAN FTTF
Metode ini kelanjutan dari metode JTTF, di mana jarak yang digunakan lebih jauh, sehingga burung bukan lagi melompat tetapi terbang menghampiri Anda. Biasanya jarak yang digunakan diatur secara bertahap, mulai dari 2 meter hingga beberapa meter. Jangan lupa, setiap burung mau bertengger di tangan Anda, berikan reward berupa makanan.
Dengan pelatihan yang rutin setiap pagi dan sore hari, burung hantu akan cepat mengerti dan mudah dipanggil, baik melalui peluit atau kata-kata atau isyarat lainnya.
Itulah pelatihan dasar yang akan membentuk ikatan antara burung hantu dan pemiliknya. Jika sudah tercipta hubungan batin seperti itu, burung bisa diberikan pelatihan FF atau terbang bebas, di mana dia dibiarkan terbang bebas, lalu akan kembali kepada Anda begitu Anda mengeluarkan isyarat tangan atau memanggilnya dengan peluit atau kata-kata, sebagaimana yang sering Anda lakukan dalam pelatihan.
Untuk pelatihan ini, burung harus benar-benar sudah mengerti dan sudah menganggap Anda sebagai partner, sehingga kemungkinan burung terbang meninggalkan majikannya tidak akan terjadi. Sebab pada tahap ini, burung tidak lagi diperlengkapi dengan tali dan alat apapun yang mengikatnya, alias tidak menggunakan pengamanan.
LATIHAN TERBANG BEBAS
Latihan terbang bebas atau FF
Semoga bermanfaat

barn_owl_3tfkPerawatan burung hantu ini sangat berbeda dari perawatan burung kicauan yang aktif pada siang hari dan beristirahat pada malam harinya. Faktor utama dalam perawatan burung adalah pakan hariannya, yang sangat tergantung dari kebiasaan, jenis pakan, dan habitat burung tersebut. Tetapi dari semua jenis burung hantu yang ada di Indonesia rata-rata pemakan serangga kecil. Jadi, dalam hal ini pemberian jangkrik bisa diterapkan.
Untuk burung hantu jenis celepuk, perawatannya lebih mudah karena bisa diberi pakan jangkrik dewasa dengan porsi 10-15 ekor yang diberikan tiap pagi dan malam harinya. Selain jangkrik, burung hantu ini juga bisa diberikan pakan ikan kecil (misalnya anak ikan mas), anak ayam, puyuh,  tikus putih, dan juga burung emprit yang banyak dijual khusus untuk pakan burung pemangsa dan reptil. Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknya burung hantu jangan diberi ikan lele atau daging ayam mentah dari pasar.
Untuk anakan burung hantu, atau umurnya belum mencapai 6 bulan, pakan bisa berupa jangkrik saja dan sebaiknya pakan ini tidak disodorkan langsung ke paruhnya. Cukup diletakkan di tangan Anda, dan biarkan burung mengambil sendiri makanannya. Hal ini untuk mencegah agar burung hantu tidak manja dan akhirnya malas makan kalau tidak diloloh.
Setelah burung hantu berusia 7 – 8 bulan, pakan yang diberikan bisa diganti atau ditambah dengan burung kecil seperti emprit dan tikus putih.
Burung hantu tidak menyukai tempat yang panas. Jangan membiarkan anakan burung hantu di tempat panas. Jika melihat burung kepanasan, segera pindahkan ke lokasi yang teduh, misalnya di dalam rumah, di bawah pohon rindang, atau di beranda rumah. Sebaliknya, lingkungan kandang juga jangan terlalu dingin.
The Northern Pygmy OwlSelama merawat, jangan sungkan-sungkan Anda mengajaknya bicara, sekedar menghilangkan rasa bosan dan kesepian dari burung hantu tersebut, sekaligus menumbuhkan kepercayaan dan membangun hubungan antara burung hantu dan pemiliknya.
Burung hantu yang mengalami kebosanan cenderung mudah mengalami stress. Burung hantu jika stres sering menolak makanan yang bisa berakibat pada kematian.
Pada malam hari, burung hantu bisa disimpan dalam ruangan yang gelap tanpa cahaya lampu sedikitpun.
Hal terpenting dalam perawatan burung hantu adalah membangun kepercayaan burung hantu terhadap pemiliknya, dan bagaimana menciptakan hubungan emosional antara burung hantu dan pemiliknya. Hal tersebut bisa dilakukan dengan selalu berinteraksi dan memberi perhatian ekstra. Sebab burung hantu bukan sekadar piaraan, tetapi juga partner Anda.
BURUNG HANTU ADALAH PARTNER BUKAN HEWAN PELIHARAAN
Bagi Harry Potter dan Master Limbad, burung hantu adalah partner.
Semoga bermanfaat :D