on Kamis, 12 Juni 2014
Saat ini, kucing (felis silvestris catus) merupakan salah satu hewan peliharaan terpopuler diIndonesia maupun di dunia. 

Sebagian orang menganggap kucing sebagai hewan pembawa keberuntungan, karena kucing mampu berhubungan dengan dunia lain, dan kucing dapat merasakan bahkan dapat mengusir roh jahat, terlebih kucing berbulu hitam. 

Setiap hewan atau tumbuhan memancarkan energi dengan frekuensi tertentu. Energi (frekuensi) yang dipancarkan kucing merupakan energi positif yang berlawanan dengan energi negatif di sekitarnya, seperti halnya pada binatang angsa yang juga dapat menyingkirkan energi negatif di sekitarnya. 

Kucing diyakini mempunyai kekuatan menangkal roh-roh jahat atau makhluk halus. Oleh karena itu, hantu atau mahluk halus tidak menyukai rumah yang penghuninya memelihara kucing.



Mitos Kucing di Asia
Di Asia, kucing termasuk salah satu zodiak di Vietnam. Namun kucing tidak termasuk ke dalam zodiak Tionghoa. Menurut legenda, ketika Raja Langit mengadakan pesta untuk hewan yang akan dipilih menjadi zodiak, dia mengutus tikus untuk mengundang hewan-hewan yang telah dipilihnya. Bagian cerita ini dikisahkan dalam berbagai versi, ada versi yang menceritakan bahwa tikus lupa untuk mengundang kucing; versi lainnya, tikus menipu kucing mengenai hari pesta; dan berbagai variasi lainnya.
Pada akhirnya kucing tidak hadir dalam pesta itu, tidak terpilih menjadi hewan zodiak, sehingga memiliki dendam kesumat pada tikus. 

Bagi orang Jepang, kucing adalah hewan teramat istimewa. Orang Jepang lebih memilih memelihara kucing dibanding anjing. Para kaisar yang pernah menduduki tahta pemerintahan, selalu memelihara kucing. Ini dikarenakan adanya mitos turun-temurun yang menyatakan bahwakucing adalah hewan kesayangan Dewa Amaterasu (Dewa Matahari). 

Sebagai hewan kesayangan Dewa, kucing sering turun ke dunia manusia untuk mengamati kehidupan para manusia dan melaporkan segala yang dilihatnya itu kepada para dewa. Jika ia menemukan orang yang berhati mulia namun sangat miskin, ia akan melaporkannya kepada Dewa Kemakmuran agar orang baik tersebut diberi rahmat rejeki. 

Gambar boneka patung kucing Jepang (ManekiNeko), simbol rejeki.
Dari mitos ini pulalah lahir boneka "ManekiNeko", yaitu boneka atau patung kucing yang duduk dan melambaikan satu kaki depannya. Patung seperti ini banyak dijual di toko-toko. Patung kucing ini adalah simbol rejeki atau kemakmuran, karena orang Jepang percaya bahwa kucing itu mendatangkan rejeki. 

Mitos ini tidak hanya dipercaya oleh orang Jepang, tetapi juga oleh orang China yang dikenal sebagai pengusaha ulung. 

Itulah sebabnya, bagi orang Jepang, kucing dianggap hewan yang keramat. Mereka percaya, jika seseorang membunuh kucing dengan sengaja, maka kesialan akan mengikuti sepanjang sisa hidupnya akibat kutukan dewa. 

Tradisi di Jepang, jika kucing peliharaan mereka mati, maka akan menguburkan jenazah sang kucing di pemakaman khusus hewan seperti layaknya pemakaman manusia. 

Mereka memasang dupa di kuburan kucingnya dan mendoakan supaya arwah sang kucing diterima di Kerajaan Dewa. Diyakini, sebagai imbal-baliknya, arwah sang kucing akan melaporkan perlakuan baik yang diterimanya selama berada di bawah asuhan majikannya kepada Dewa dan Dewa akan memberkati manusia yang menjadi majikannya tersebut.



Kucing Hewan Kesayangan Nabi
Bagi umat Islam, kucing adalah hewan kesayangan Nabi Muhammad SAW. 

Dalam suatu kisah, Nabi Muhammad memiliki seekor kucing yang diberi nama Mueeza. Suatu saat, dikala nabi hendak mengambil jubahnya, ditemuinya kucing Mueeza sedang terlelap tidur dengan santai di atas jubah beliau. Tak ingin mengganggu hewan kesayangannya itu, nabi pun memotong belahan lengan yang ditiduri kucing Mueeza dari jubahnya. Ketika Nabi pulang kembali ke rumah, Muezza terbangun dan merunduk kepada majikannya. Sebagai balasan, nabi menyatakan kasih sayangnya dengan mengelus lembut ke badan mungil kucing itu. 

Dalam aktivitas lain, setiap kali menerima tamu dirumah beliau, Nabi selalu menggendong Mueeza yang dipangku di paha beliau. Salah satu sifat Mueeza yang disukai Nabi, dia selalu mengeong ketika mendengar adzan, dan suara meongnya terdengar seperti mengikuti lantunan suara adzan. Kepada para sahabatnya, Nabi berpesan untuk menyayangi kucing peliharaan layaknya menyayangi keluarga sendiri. 

Gambar prasasti miniatur kucing
di Kekaisaran Ottoman.
Beberapa diantara orang terdekat nabi juga memelihara kucing. Aisyah binti abubakar shiddiq, istri nabi amat menyayangi kucing, dan merasa amat kehilangan dikala ditinggal pergi oleh si kucing. 

Abdurrahman bin sakhr al Azdi. diberi julukan Abu huruyrah (bapak para kucing jantan), karena kegemarannya dalam merawat dan memelihara berbagai kucing jantan dirumahnya. 

Dalam syariat Islam, seorang muslim dilarang menyakiti kucing, berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari kisah Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah. 

Gambar suvenir kucing (patung kecil) di timur tengah.
Dalam buku yang berjudul Cats of Cairo, Baybars al zahir, seorang sultan dari dinasti mamluk yang terkenal, sangat menyayangi kucing. Al zahir sengaja membangun taman-taman khusus bagi kucing dan menyediakan berbagai jenis makanan didalamnya. 

Tradisi ini akhirnya menjadi adat istiadat di berbagai kota-kota besar di Timur Tengah. Hingga saat ini, mulai dari Damaskus, Istanbul, hingga Kairo, dapat dijumpai kucing-kucing yang berkeliaran di pojok-pojok masjid dengan berbagai macam makanan yang disediakan oleh penduduk sekitarnya. 

Mulai abad 13, sebagai manifestasi penghargaan masyarakat islam, rupa kucing dijadikan suvenir sebagai ukiran cincin para khalifah, termasuk porselen, patung hingga mata uang. Di dunia sastra, para penyair banyak membuat syair bagi kucing peliharaannya yang telah berjasa melindungi buku-buku mereka dari gigitan tikus dan serangga lainnya. 

Dalam ilmu medis, banyak dokter tempo dulu yang menjadikan kucing sebagai terapi medis untuk penyembuhan tulang, melalui dengkuran gelombang suaranya yang setara dengan frekuensi 50hertz. Dengkuran tersebut menjadi frekuensi optimal dalam menstimulasi pemulihan tulang.



Sedikit Cerita Mengharukan
Cerita yang cukup terkenal terkait kucing adalah cerita tentang seekor kucing peliharaan yang dipercaya oleh seorang pria, untuk menjaga anaknya yang masih bayi dikala dia pergi selama beberapa saat. Bagaikan prajurit yang mengawal tuannya, kucing itu tak hentinya berjaga di sekitar sang bayi. Tak lama kemudian melintaslah ular berbisa yang sangat berbahaya di dekat si bayi mungil tersebut. Kucing itu dengan sigapnya menyerang ular itu hingga mati dengan darah yang berceceran. 

Sorenya ketika si pria pulang, dia kaget melihat begitu banyak darah di kasur bayinya. Prasangkanya berbisik, si kucing telah membunuh anak kesayangannya. Tak ayal lagi, ia mengambil pisau dan memenggal leher kucing yang tak berdosa itu. 

Setelah melakukan aksi keji itu, tiba-tiba sang pria tersebut tersentak kaget, bagaimana tidak, ia melihat anaknya terbangun, dengan bangkai ular yang telah tercabik di bawah tempat tidur anaknya. melihat itu, si pria menangis dan menyesali perbuatannya setelah menyadari bahwa ia telah membunuh kucing peliharaannya yang telah bertaruh nyawa menjaga keselamatan anaknya. 

Kisah ini menjadi refleksi bagi masyarakat untuk tidak berburuk sangka kepada siapa pun, untuk tidak berpikiran negatif, untuk tidak berperasaan negatif.
Sebagian besar kucing memiliki ketahanan tinggi terhadap perubahan cuaca, terhadap panasnya daerah tropis dan dinginnya iklim subtropis, terhadap kabut dan hujan.

Gambar kucing jenis ras Khao Manee.
Kucing termasuk hewan yang sangat bersih dan menyukai kebersihan. Mereka merawat diri dengan menjilati rambut mereka. Saliva atau air liur mereka adalah agen pembersih yang kuat. Kadang kala kucing memuntahkan hairball atau gulungan rambut yang terkumpul di dalam perut mereka. Sebagian kucing sangat menyukai air, mereka senang bila dimandikan.

Kucing peliharaan yang tinggal di dalam rumah harus diberi kotak kotoran yang berisi pasir atau bahan khusus yang dijual di toko hewan peliharaan. Perlu juga disediakan tempat khusus bagi kucing untuk mencakar. Hal ini penting karena kucing memerlukan kegiatan mencakar ini untuk menanggalkan lapisan lama pada kukunya agar kukunya dapat terjaga kesehatannya. Tidak adanya tempat khusus ini akan menyebabkan kucing mencari sendiri media untuk membersihkan dan merapihkan kukunya.

Kucing cukup mampu memilih makanan, karena mereka memiliki organ pembau khusus di langit-langit mulutnya yang disebut sebagai organ vomeronasal atau organ Jacobson. Ketika organ ini terstimulasi oleh suatu jenis makanan tertentu, kucing akan menolak makanan selain makanan itu.

Gambar Mata kucing.
Membrana nictitans berupa selaput putih di sudut dalam ruang mata.
Kucing dapat melihat dalam cahaya yang amat terang. Mereka memiliki Selaput pelangi atau iris membentuk celah pada mata yang akan menyempit. Meskipun demikian, penyempitan ini juga mengurangi bidang pandang kucing. Suatu organ yang disebut tapetum lucidum digunakan dalam lingkungan dengan sedikit cahaya. Organ inilah yang menyebabkan warna-warni mata kucing ketika difoto dengan menggunakan blitz.

Kedua mata kucing menghadap ke depan, menghasilkan persepsi jarak dan mengurangi besarnya bidang pandang. Mata kucing memiliki persepsi trikomatik yang lemah.

Ketika cahaya yang ada terlalu sedikit untuk melihat, kucing akan menggunakan "kumis" atau misainya (vibrissae) untuk membantunya menentukan arah dan menjadi alat indera tambahan. Misai dapat mendeteksi perubahan angin yang amat kecil, membuat kucing dapat mengetahui adanya benda-benda di sekitarnya tanpa melihat.

Kucing memiliki kelopak mata ketiga yang disebut membrana niktitans. Kelopak ketiga ini terdiri dari suatu lapisan tipis yang dapat menutupi mata dan nampak ketika mata kucing terbuka. Membran ini menutup sebagian ketika kucing sedang sakit. Kadang kucing yang amat mengantuk atau gembira juga memperlihatkan membran ini.

Suara kucing sering ditulis "meong" dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Inggris yang digunakan di Amerika, suara kucing ditulis "meow". Di negara Inggris sendiri, penulisannya adalah "miaow", "miaow" dalam bahasa Perancis, "miau" dalam bahasa Jerman, "nya" dalam bahasa Jepang dan berbagai penulisan lain dalam berbagai bahasa.

Suara "meong" kucing memiliki berbagai arti tergantung pengucapannya oleh si kucing. Kucing juga dapat mengeluarkan suara seperti dengkuran panjang yang sering disukai manusia. Karena suara ini bukan merupakan suara vokal, maka kucing dapat mengeluarkan suara dengkuran dan mengeong pada saat yang sama.

Gambar Kucing ras/jenis Scottish Fold, posisi daun telinganya terlipat.
Bentuk dan posisi daun telinga kucing bergantung dari ras/jenisnya. Ada yang tegak, ada yang runcing, tumpul, juga ada yang terlipat seperti jenis Scottish Fold. Ketika marah atau takut, daun telinga kucing jenis ini akan tertekuk ke belakang sementara si kucing mengeluarkan suara menggeram atau mendesis. Ketika mendengarkan suatu suara, daun telinga kucing akan bergerak ke arah sumber suara; daun telinga kucing dapat mengarah ke depan, ke samping, bahkan seolah menoleh ke belakang.

Kucing menyimpan energi dengan cara tidur lebih sering ketimbang hewan lain. Lama tidur kucing bervariasi antara 12-16 jam per hari, dengan angka rata-rata 13-14 jam. Tetapi tidak jarang dijumpai kucing yang tidur selama 20 jam dalam satu hari.

Gambar Kucing jenis ras Toyger dengan 4 bayinya yang sedang menyusui.
Masa kehamilan atau gestasi pada kucing berkisar 63 hari. Anak kucing terlahir buta dan tuli. Mata mereka baru terbuka pada usia 8-10 hari. Anak kucing akan disapih oleh induknya pada usia 6-7 minggu dan kematangan seksual dicapai pada umur 10-15 bulan. Kucing dapat mengandung 4 janin sekaligus karena rahimnya memiliki bentuk yang khusus dengan 4 bagian yang berbeda.


Berat badan kucing bergantung dari rasnya, ada yang sangat ringan dan kecil, juga ada yang berukuran besar. Secara moderat dan rata-rata kucing memiliki berat badan antara 2,5 hingga 10 kilogram. Untuk ukuran besar, berat badan kucing bisa mencapai 24 kg.

Usia kucing juga bervariasi tergantung rasnya, umumya kucing dapat hidup selama 15 hingga 20 tahun, kucing tertua diketahui berusia 36 tahun.

Kucing peliharaan yang jarang keluar rumah dapat hidup lebih lama dibandingkan yang sering keluar rumah, terutama karena resiko perkelahian dan kecelakaan. 
Gambar fosil kucing purba.
Pada masa silam nenek moyang kucing adalah Miacis, binatang liar pada masa Eosen yang sosoknya mirip musang, 50 juta tahun silam. 

Bulan Agustus 2008 tim peneliti kandungan minyak Venezuela berhasil menemukan fosil kucing raksasa bertaring tajam di wilayah tenggara Caracas. "Ini merupakan temuan paling penting di Amerika Selatan selama kurun waktu 60 tahun," ujar paleontologis dari Institut Sains Venezuela Ascanio Rincon. 

Fosil-fosil tersebut ditemukan bersama beberapa fosil hewan lainnya seperti harimau kumbang, serigala, onta, burung gagak, bebek dan kuda. Semua hewan tersebut hidup pada 1,8 juta tahun lalu. Para tim menemukan fosil tersebut secara tidak sengaja saat mereka sedang mencari kemungkinan kandungan energi minyak di pusat wilayah Monages. 

Penemuan yang paling penting adalah rangka tengkorak yang masih lengkap dari kucing raksasa zaman purba, yang dinamakan Homotherium. Kucing raksasa tersebut memiliki taring tajam berukuran lebih kecil dari harimau dan tubuh yang mirip dengan Hyena, yang pernah hidup di wilayah Afrika, Eurasia dan Amerika Utara antara lima juta hingga 10 ribu tahun lalu. Hewan ini mengalami kepunahan pada 500 ribu tahun lalu. 

Gambar prasasti kucing
pada kebudayaan Mesir kuno.
Catatan paling awal tentang usaha domestikasi (penjinakan) kucing adalah sekitar tahun 4000 SM di Mesir, ketika kucing digunakan untuk menjaga toko bahan pangan dari serangan tikus. Namun, baru-baru ini dalam sebuah makan di Shillourokambos, Siprus, bertahun 7500 SM, ditemukan kerangka kucing yang dikuburkan bersama manusia. Karena tikus bukanlah hewan asli Siprus, hal ini menunjukkan bahwa paling tidak pada saat itu, telah terjadi usaha domestikasi kucing. Kerangka kucing yang ditemukan di Siprus ini mirip dengan spesies kucing liar yang

merupakan nenek moyang kucing rumahan saat ini. 
Gambar sebuah topeng perunggu digunakan dalam pemakaman mumi kucing di Mesir kuno.


Pada tahun 1.800-an ditemukan suatu kuburan atau tepatnya "situs" berisikan 300.000 mumi kucing dalam keadaan masih utuh, yang menandakan dahulu kucing memang suatu hewan yang spesial. Orang Mesir kuno menganggap kucing sebagai penjelmaan Dewi Bast, juga dikenal sebagai Bastet atau Thet. Hukuman karena membunuh kucing adalah hukuman mati, dan jika ada kucing yang mati kadang dimumikan seperti halnya manusia. 

Pada abad ke 14 populasi kucing di Eropa masih sangat sedikit, sebaliknya populasi tikus meningkat dengan pesat. Dan terjadilah wabah Black Death (semacam pes) yang dibawa tikus pada akhir abad ke-14. Wabah tersebut dengan cepat menyebar ke seluruh Eropa, yang menyebabkan kematian 40 juta penduduk Eropa (1/3 nya) dalam waktu 4 tahun (dari th 1347 – 1351). Pada saat wabah black death ini, tanah lapang dipenuhi dengan mayat-mayat, rumah-rumah, desa-desa dan perkotaan menjadi sunyi dan kosong. 

Wabah ini juga menyebar ke Asia dan Afrika, walaupun tidak separah di Eropa. Wabah ini merupakan wabah terburuk dalam sejarah umat manusia.

Wabah ini berangsur berkurang dengan meningkatnya populasi kucing dan menurunnya populasi tikus. Manusia semakin menyadari betapa pentingnya peranan kucing dalam kehidupan manusia. 

Dalam ilmu medis, banyak dokter tempo dulu yang menjadikan kucing sebagai terapi medis untuk penyembuhan tulang, melalui dengkuran gelombang suaranya yang setara dengan frekuensi 50 hertz. Dengkuran tersebut menjadi frekuensi optimal dalam menstimulasi pemulihan tulang. 

Orang-orang di benua Eropa, Amerika, dan Australia banyak membawa berbagai jenis kucing dari Asia (khususnya Timur Tengah), kemudian mengembangkannya menjadi berbagai ras/jenis.